Tampilkan postingan dengan label Cerita Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Islam. Tampilkan semua postingan

ANTARA DUNIA DAN AKHIRAT

SUBHANALLAH

Di TPA tak begitu besar, nampak Muslimah berjilbab sedang mengajari anak-anak belia mengaji. Di sela-sela mengajar mengaji, ia memberikan tebakan, "Anak-anak ayo tebak, apa bedanya orang yang menanam padi dengan orang yang menanam rumput?".
"apa ya..." pikir sebagian dari mereka.
setelah beberapa menit, anak bepeci hijau menyampaikan pendapatnya, "kalau orang menanam padi maka rumput juga akan tumbuh, tapi kalau orang menanam rumput mustahil padi juga akan tumbuh".
"Ehm... tepat. Anak-anak, seperti itulah perbedaan antara orang yang mengejar dunia dan akhirat. Jika seorang muslim mengejar akhirat maka duniapun akan menyertainya, namun jika seseorang mengejar dunia maka ia hanya akan mendapatkan bagiannya di dunia dan sama sekali tidak mendapatkan bagiannya di akhirat seperiti yaang dilakukan oleh orang kafir"
"Itu kata siapa ustadadzah?" tanya anak yang paling kecil.
"Itu sabda Rasul yang isinya, 'Orang kafir jika berbuat kebaikan di dunia, maka segera di beri balasannya didunia. Sedangkan orang mukmin jika berbuat kebajikan, maka tersimpan pahalanya di akhirat disamping rezeki yang diterimanya di dunia atas ketaatannya. Sesungguhnya Allah SWT tidak menganiaya/mengurangi sedikit kebaikan orang mukmin, diberinya di dunia dan dibalas di akhirat (HR.Tirmidzi)', mengerti anak-anak?
"Alhamdulillah mengerti,,,,"

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

♫♪♫ Antara Ayah, Anak dan Burung Gagak♫♪

♫♪♫ Antara Ayah, Anak dan Burung Gagak♫♪

Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan
pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di
sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu
menuding jari ke arah gagak sambil bertanya,
“Nak, apakah benda itu?”
“Burung gagak”, jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi
pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu
menjawab dengan sedikit kuat,
“Itu burung gagak, Ayah!”
Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama.
Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama
diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat,
“BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika.
Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang
serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal
kepada si ayah,
“Itu gagak, Ayah.” Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi
membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang
sabar dan menjadi marah.
“Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal
hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya
katakan????
Itu burung gagak, burung gagak, Ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.
Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang
kebingungan.
Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu
kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama.
“Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah.
9
Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut.
“Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba
seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan
bertanya,
“Ayah, apa itu?”
Dan aku menjawab,
“Burung gagak.”
Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku
menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi
rasa cinta dan sayangku, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya.
“Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.”
Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si
Ayah yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara,
“Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau
telah hilang kesabaran serta marah.”
Lalu si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya
memohon ampun atas apa yg telah ia perbuat.
PESAN:
Jagalah hati dan perasaan kedua orang tuamu, hormatilah mereka.
Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil.
Kita sudah banyak mempelajari tuntunan Islam apalagi berkenaan dengan berbakti
kepada kedua orangtua.Tapi berapa banyak yang sudah dimengerti oleh kita apalagi
diamalkan???
Ingat! ingat! Banyak ilmu bukanlah kunci masuk syurganya Allah.
SEBARKAN ke teman anda jika menurut anda catatan ini bermanfaat….

Author : PercikanIman.org
Shared : Kisah Penuh Hikmah
http://virouz007.wordpress.com/
...♥☀...♥`•.¸.•´♥☀•

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BMRI on Facebook